Minggu, 01 April 2012

Perlakuan Surplus Underwriting pada Asuransi Syariah


PERLAKUAN SURPLUS UNDERWRITING PADA ASURANSI SYARIAH

DAFTAR ISI                                                                                                                             
A.         PENDAHULUAN                                                                                                          
B.         PEMBAHASAN                                                                                                            
I.          Pengertian Underwriting                                                                                  
II.         Underwriting Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah                             
                        a.         Underwriting Asuransi Konvensional                                                   
                        b.         Underwriting Asuransi Syariah                                                                         
            III.        Perlakuan Surplus Underwriting pada Asuransi Konvensional                                    
            IV.        Perlakuan Surplus Underwriting pada Asuransi Syariah                                  
                        a.         Akad Tabarru’ pada Asuransi Umum Syariah                                      
                        b.         Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Umum Syariah                                    
                        c.         Surplus Underwriting Dana Tabarru’ dan Mekanisme
Pendistribusiannya                                                                              
C.         PENUTUP                                                                                                                    
            I.          Solusi Pengalokasian Surplus Underwriting Dana Tabarru’                             
            II.         Komentar Penulis Mengenai Perlakuan Surplus Underwriting                         
DAFTAR PUSTAKA                                                                                                                 





A.         PENDAHULUAN
            Asuransi Syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong-menolong secara mutual yang melibatkan peserta dan operator. Syariah berasal dari ketentuan-ketentuan di dalam Al-quran dan As-sunnah.
            Pada hakikatnya, Asuransi Syariah tidak terlalu berbeda jauh dengan Asuransi konvensional yang dilakukan secara mutual, seperti Mutual Insurance dan  Protection and Indemnity Club (P & I Club).[1]
            Letak perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional adlah pada bagaimana risiko itu dikelola dan ditanggung, dan bagaimana dana asuransi syariah dikelola. Perbedaan lebih jauh adalah pada hubungan antara operator (penanggung) dengan peserta (tertanggung).
            Sedangkan istilah underwriter digunakan untuk mengartikan proses seleksi yang dengan itu underwriter menentukan penawaran risiko mana yang harus diterima, dan jika diaksep, atas rate, syarat, dan kondisi apa.
Underwriting merupakan proses penyelesaian dan pengelompokan risiko yang akan ditanggung. Tugas itu merupakan sebuah elemen yang esensial dalam operasi perusahaan asuransi. Sebab, maksud underwriting  adalah memaksimalkan laba melalui penerimaan distribusi risiko yang diperkirakan akan mendatangkan laba. Tanpa underwriting yang efisien, perusahaan asuransi tidak akan mampu bersaing.[2]
Dalam melakukan proses penerimaan risiko (underwriting) terdapat tiga konsep penting yang menjadi dasar bagi perusahaan asuransi untuk menerima atau menolak suatu penutupan risiko.
1.       Kemungkinan menderita kerugian (chance of loss)
Sering disebut dengan probilita atau kemungkinan menderita kerugian dari sejumlah objek tertentu. Underwriter pada umumnya meramalkan kemungkinan menderita kerugian ii berdasarkan apa yang terjadi di masa lalu.
2.       Tingkat risiko (degree of risk)
Yaitu, ketidakpastian atas kerugian pada masa datang yang biasanya sulit untuk diramalakan. Tingkat risiko ini sering kali dicampuradukkan dengan kemungkinan menderita kerugian, tetapi keduanya mempunyai perbedaan pokok.
3.       Hukum bilangan besar (law of large number)
Makin banyak objek yang mempunyai risiko yang sama atau hampir sama, akan makin bertambah baik bagi perusahaan asuransi. Hal ini disebabkan penyebaran risiko-risiko akan lebih luas. Sehingga, secara sistematis kemungkinan menderita kerugian dapat diramalkan dengan baik.

Oleh karena itu, system operasional Asuransi Syariah (takaful) adalah saling bertanggung jawab, bantu-membantu dan saling melindungi antara para pesertanya. Perusahaan Asuransi Syariah diberi kepercayaan atau amanah oleh para peserta untuk mengelola premi, mengembangkan dengan jalan yang halal dan memberikan santunan kepada yang mengalami musibah sesuai isi akta perjanjian.

Keuntungan perusahaan diperoleh dari pembagian keuntungan dana peserta yang dikembangkan dengan system mudharabah  (bagi hasil). Para peserta Takaful berkedudukan sebagai pemilik modal (shahibul maal) dan perusahaan Takaful berfungsi sebagai pemegang amanah (mudharib).

Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan dana itu dibagi antara para peserta dan perusahaan sesuai dengan ketentuan (nisbah) yang telah disepakati.

Perusahaan Asuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti. Dalam polis asuransi dan perjanjian reasuransi dengan prinsip syariah wajib mengandung akad tabarru’ dan akad tijarah.

Makalah ini mencoba menguraikan bagaimana perlakuan kepada dana tabarru’ , dimana ketika peserta asuransi tidak pernah mengklaim atau hanya sedikit mengklaim dana tabarru’ , sehingga dana tabarru’ mengalami surplus atau hanya sedikit berkurang.
B.         PEMBAHASAN
I.          PENGERTIAN UNDERWRITING
Underwriting adalah proses penaksiran mortalitas atau morbiditas calon tertanggung untuk menetapkan (1) apakah calon teranggung dapat ditutp asuransinya, dan jika dapat (2) klasifikasi risiko yang sesuai bagi tertanggung. Sedangkan moralitas adalah jumlah kejadian meninggal relative diantara sekelompok orang tertentu dan mordibitas adalah jumlah kejadian relative sakit atau penyakit di antara sekelompok orang tertentu.
Dengan demikian, underwriting adalah proses yang dengannya pengelola asuransi syariah mempertimbangkan dan menentukan apakah akan menerima pertisipasi ganti rugi yang dibuat pemohon dan menentukan syarat-syarat yang akan ditentukan.
Underwriting adalah proses penyelesaian dan pengelompokan risiko yang akan ditanggung. Tugas itu merupakan sebuah elemen yang esensial dalam operasi perusahaan asuransi. Sebab, maksud underwriting adalah memaksimalkan laba melalui penerimaan distribusi risiko yang diperkirakan akan mendatangkan laba. Tanpa underwriting yang efisien, perusahaan asuransi tidak akan mampu bersaing. Dalam praktiknya untuk menarik nasabah harus ada proporsi yang sama mengenai risiko yang baik dengan risiko yang kurang menguntungkan dalam kelompok yang diasuransikan, sesuai dengan informasi data statistic yang diperoleh.
II.         Underwriting Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah                
a.         Underwriting Asuransi Konvensional
Dalam asuransi konvensional, underwriting dilakukan untuk memilih mana objek risiko yang ditanggung dan mana yang tidak. Ini berarti sorang underwriter akan membuat suatu penilaian berdasarkan semua risiko yang diajukan kepada perusahaan, yang diperkirakannya secara kolektif akan menguntungkan. Kemudian underwriter juga akan menentukan besarnya premi dan nilai deductible dll. yang sepadan dengan nilai antisipasi klaim dari tertanggung, biaya manajemen dan akuisisi. Dan yang juga dianggap paling penting, harus diperoleh keuntungan underwriting untuk perusahaan.
Berikut ini adalah persamaan dasar underwriting untuk asuransi konvensional :

Rasio Biaya Akuisisi
+           Rasio Klaim
+           Rasio Biaya Manajemen
<          100 %
Rasio Biaya Akuisisi + Rasio Klaim + Rasio Biaya Manajemen = Rasio Gabungan atau Combained Operating Ratio (COR)
Apabila COR lebih kecil dari 100 %, maka profit margin underwriting adalah 100 % dikurangi COR, sbaliknya jika COR lebih besar dari 100 %, aka kerugian underwriting adalah sama dengan COR dikurangi 100 %.
b.         Underwriting Asuransi Syariah
Underwriting Asuransi Syariah mempunyai tujuan yang sangat bebeda. Konsep dasarnya adalah memberikan skema pembagian risiko yang proposional dan adil di antara para peserta yang secara relative homogen. Dengan dasar pemikiran ini, melalui asuransi syariahdiharapkan peserta tolong-menolong satu sama laindisertai dengan adanya perlindungan yang sifatnya mutual, maka semua peserta akan merasa aman dan menikmat perlindungan yang mereka butuhkan.
Dengan tujuan tersebut di atas, maka peran undewriter asuransi syariah diantaranya adalah sebagai berikut.:
§     Menetapkan risiko yang relative homogeny dalam suatu peserta atau calon peserta
§     Menetapkan ruang lingkup perlindungan yang dibutuhkan ole para peserta atau calon peserta dalam kelompok tersebut
§     Menetapkan estimasi biaya secara keseluruhan yang dibutuhkan untuk memberikan perlindungan kepada para peserta tersebut
§     Mendistribusikan skema kontribusi yang proposional dan adil yang selayaknya jadi beban dari setiap peserta
Persamaan underwriting Asuransi Syariah yang mewakili sebuah Model Wakalah :



Rasio Ongkos Risiko Murni
+           Rasio Biaya Akuisisi
+           Rasio Biaya Wakalah Operator
=          100 %

III.        Perlakuan Surplus Underwriting pada Asuransi Konvensional
            Pada asuransi konvensional sebagaimana lazimnya semua industry asuransi, keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi dan hasil investasi, dalam satu tahun (untuk asuransi kerugian) adalah keuntungan perusahaan. Dan menjadi milik perusahaan yang kelas dalam RUPS akhir tahun akan dibagikan kepada pemegang saham atau dikembalikan lagi kepada perusahaan sebagai penyertaan modal.
            Dalam asuransi jiwa, keuntungan yang sebagian besar diperoleh dari hasil investasi, baik itu investasi melalui deposito bank, maupun instrument investasi lainnya, termasuk direct investment, semuanya menjadi keuntungan perusahaan dan dibagikan kepada pemegang saham secara proporsional pada akhir tahun atau dikembalikan lagi ke perusahaan dalam bentuk penyertaan modal.
            Pada hakikatnya mekanisme yang ada dalam asuransi konvensional sama saja dengan siste asuransi yang berlandaskan syariah. Namun dalam pelaksanaanya ada perbedaan mendasar yaitu pada system bagi hasil ( mudharabah ) pada asuransi yang berlandaskaan syariah dan tidak demikian pada asuransi konvensional. Disamping itu ada alasan lain lagi yang perlu dijadikan bahan pertimbangan, terutama oleh golongan ulama yang mengharamkan asuransi konvensional, disebabkan oleh tiga hal, yaitu :
a. Gharar ( Ketidakpastian )
            Dalam asuransi konvensional ada gharar ( ketidakpastian ), karena tidak jelas akad yang melandasinya. Apakah akad tabadduli ( tukar - menukar ) atau akad takafuli ( tolong – menolong ). Umpamanya saja sekiranya terjadi klaim, seperti asuransi 10 tahun dan pembayaran premi Rp 15.000.000,- per tahun. Kemudian pada tahun ke lima ia meninggal dunia, maka pertanggungan yang sudah diberikan sebesar Rp 15.000.000,-. Hal ini berarti, bahwa uang yang Rp 7.500.000 ( selama 5 tahun ) itu adalah gharar dan tidak jelas dari mana asalnya. Berbeda dengan asuransi syariah, bahwa sejak awal polis dibuka, sudah diniatkan 95 % premi sebagai tabungan dan 5 % diniatkan untuk tabarru’ ( derma / sumbangan.
            Jika terjadi klaim pada tahun ke 5, maka dana yang Rp 7.500.000 itu tidak gharar, tetapi jelas sumbernya, yaitu dari dana kumpulan tabarru’ / derma.
b.         Maisir ( Judi / Gambling )
            Mengenai judi jelas hukumnya sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Al - Maidah ayat 90 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9øF{$#ur Ó§ô_Í ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ  
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
            Dalam asuransi konvensional, judi timbul karena dua hal :
·         Misalnya seseorang memasuki satu premi, ada saja kemungkinan dia berhenti karena alasan tertentu. Apabila berhenti di jalan sebelum masa reversing period, dia bisa menerima uangnya kembali ( biasanya 2-3 tahun ) dan jumlahnya 20 % dan uang itu akan hangus. Dalam keadaan inilah ada unsur judi
·         Jika perhitungan kematian itu tepat dan menentukan jumlah polis juga tepat, maka perusahaan akan untung. Tetapi jika salah dalam perhitungan, maka perusahaan akan rugi. Ini adalah unsur judi / untung-untungan.

Dengan argumentasi yang hampir sama, Syafi’I Antonio mengatakan bahwa unsur maisir artinya adanya salah satu pihak yang untung, namun di lain pihak justru mengalami kerugian. Hal ini tampak jelas apabila pemegang polis dengan sebab – sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reversing period, biasanya tahun ketiga ( untuk produk tertentu ), maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan kecuali sebagian kecil saja.
Pada kesempatan lain, Syafi’I Antonio menjelaskan tentang maisir dalam asuransi konvensional yang tidak jauh beda seperti penjelasan yang dipaparkan sebelumnya, bahwa maisir adalah suatu bentuk ksefahaman antara beberapa pihak, namun ending yang dihasilkan hanya satu atau sebagia kecil saja yang diuntungkan. Sedangkan maisir dalam asuransi konvensional terjadi dalam tiga hal :
·         Ketika seorang pemegang polis mendadak kena musibah sehingga memperoleh hasil klaim, padahal baru sebentar menjadi klien asuransi dan baru sedikit membayar premi. Jika ini terjadi, nasabah diuntungkan
·         Sebaliknya, jika hingga akhir masa perjanjian tidak terjadi sesuatu, sementara ia sudah membayar premi secara penuh/lunas, maka perusahaan lah yang diuntungkan
·         Apabila pemegang polis dengan sebab-sebab tertentu membatalkan kontraknya sebelum masa reserving period, maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang akan dibayarkan (cash value) kecuali sebagian kecil saja, bahkan uangnya dianggap hangus
Dalam asuransi syariah berbeda, karena si penerima polis belum mencapai reversing period sekalipun, bila dia mengambil dananya ( karena suatu hal ), maka hal itu dibolehkan. Perusahaan asuransi adalah sebagai pemegang amanah. Dan kalaupun ada kelebihan / untung, maka pemegang polis pun juga ikut menerimanya.
c.         Riba
            Dalam asuransi konvensional juga terjadi riba, karena dananya didepositokan. Sedangkan masalah riba dipersoalkan oleh para ulama. Ada ulama yang mengharamkannya, ada yang membolehkannya dan ada pula yang mengatakan syubhat. Sedangkan jalan yang ditempuh asuransi syariah adalah dengan cara system akad mudharabah atau bagi hasil.
IV.        Perlakuan Surplus Underwriting pada Asuransi Syariah
            Akad yang menjadi focus utama dalam business process Asuransi Umum Syariah adalah akad tabarru’ dan akad wakalah bil ujrah. Adapun mengenai akad mudharabah, mudharabah musyarakah merupakan akad yang diimplementasikan dalam kegiatan investasi saja. Lain halnya dengan perusahaaan asuransi jiwa yang memang dalam produk asuransinya ada yang mengandung unsur saving dan unsur non saving.
a.         Akad Tabarru’ pada Asuransi Umum Syariah
            Premi Tabarru’ , yaitu sejumlah dana yang dihibahkan oleh pemegang polis dan digunakan untuk tolong-menolong dalam menanggulangi musibah kematian yang akan disantunkan kepada ahli waris bila peserta meninggal dunia sebelum masa asuransi berakhir.
            Niat tabarru’ (dana kebajikan/hibah) dalam akad asuransi syariah adalah altenatif uang sah yang dibenarkan oleh syara dalam melepaskan diri dari praktik gharar yang diharamkan oleh Allah SWT. Dalam konteks akad pada asuransi syariah, tabarru’ bermaksud memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk tujuan saling membantu diantara peserta asuransi jika ada yang mendapat musibah dan dana tersebut ditempatkan secara terpisah pada rekening sekaligus pencatatannya dari dana pengelola (perusahaan asuransi syariah).
            Jadi dana tabarru’ merupakan dana kolektif diantara peserta yang hanya boleh digunakan untuk kepentingan peserta saja seperti klaim, cadangan tabarru’ dan reasuransi syariah. Dana tabarru’ ini dapat diinvestasikan oleh perusahaan pihak pengelola, dan jika terdapat surplus dari investasi dana tabarru’ itu akan dimasukan ke dalam rekening dana tabarru’ peserta dan pihak pengelola mendapat upah/bagi hasil sesuai dengan akad yang disepakati (wakalah bil ujrah, mudharabah atau mudharabah musyarakah).[3] Selain itu juga terdapat surplus underwriting dari dana tabarru’ penetapan besarnya pembagian tergantung kepada peserta kolektif, regulator atau kebijakan manajemen.
b.         Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Umum Syariah
            Wakalah bil ujrah yaitu pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana peserta dengan pemberian ujrah (fee). Dalam kontrak peserta menyetujui kontribusinya dijadikan tabarru’ dan digunakan untuk membantu peserta lain yang ertimpa musibah dalam bentuk hibah. Tercantum pula persetujuan kontribusi yang dimasukkan dapat diinvestasikan dan dikelola sesuai dengan prinsip syariah, persetujuan pembayaran klaim/manfaat asuransi, provisi dan cadangan sesuai dengan pedoman dan kebijakan otoritas.[4]
            Akad wakalah bil ujrah terjadi antara peserta dan perusahaan asuransi syariah melalui polis asuransi dimana peserta memberikan kuasa kepada perusahaan untuk mengelola dananya berupa premi yang disetor dan perusahaan berhak untuk menerima ujrah atas jasa pengelolaan tersebut[5] dan apabila terdapat surplus dalam pengelolaan, maka surplus akan dibagikan berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam perjanjian.
            Premi/ kontribusi yang dibayar peserta asuransi tidak serta merta menjadi pendapatan perusahaan asuransi tetapi milik peserta secara kolektif setelah dikurangi fee pengelolaan untuk perusahaan asuransi, premi tersebut diakumulasikan utuk membagi risiko yang timbul di antaa peserta asuransi.
            Pada model wakalah ini, kontribusi yang dibayarkan peserta dipecah menjadi dua komponen yaitu :
·         Upah wakalah yaitu, upah bagi operator pengelola, upah wakalah ini menjadi dana pemegang saham / dana operator yang biasanya digunakan untuk biaya akuisisi, biaya operasional dan sebagainya
·         Dana yang dikenal sebagai dana tabarru’ yang mencakup biaya-biaya seperti underwriting, cadangang, reasuransi, klaim dan sebagainya.
Agar tidak sia-sia, dana tabarru tersebut diinvestasikan dan hasil investasinya akan dibagikan antara pengelola dan peserta. Jika terdapat deficit pada dana tabarru’ maka perusahaan memberikan pinjaman dari dana pengelola dengan akad qardh. Dalam hal ini, akad wakalah bersifat amanah (yad amanah) sehingga perusahaan sebagai wakil tidak menanggung risiko terhadap kerugian investasi dengan mengurangi fee yang telah diterimanya kecuali karena kecerobohan atau wanprestasi.[6]
c.         Surplus Underwriting Dana Tabarru’ dan Mekanisme Pendistribusiannya
            Dalam kamus asuransi surplus adalah jumlah dimana aktiva melebehi pasiva. Dan dana tabarru’ adalah sebagian dana yang disisihkan dari premi asuransi dengan memperhatikan factor-faktor risiko dari calon peserta asuransi, dimana dana tabarru’ tersebut digunakan untuk menolongsesama pesertaa yang terkena musibah.
            Sedangkan surplus dana tabarru’ itu sendiri adalah hasil pengurangan dari dana peserta tabarru’ dikuangi dengan total jumlah klaim yang terjadi (beban tabarru’) apabila hasil dari pengurangan tersebut positif, maka perusahaan akan mengalami surplus, dan apabila hasil dari pengurangan surplus tersebut negative, aka perusahaan akan mengalami defisit.
            Menurut auransi kerugian, underwriting merupakan proses seleksi untuk menetapkan jenis penawaran risiko yang harus diterima, bila diakseptasi, rate, syarat dan kondisinya harus ditentukan. Underwriting menjalankan proses penyelesaian dan mengelompokan berbagai risiko yang akan ditanggung,yang bertujuan memaksimalkan laba melalui penerimaan distribusi risiko yang diperhitungkan akan menghasilkan laba.[7] Agar bisa mendapatkan keuntungan, perusahaan harus mengadakan evaluasi terlebih dahulu terhadap semua risiko yang hendak diasuransikan, keuntungan yang diperoleh dengan dijalankannya proses underwriting, jadi dengan pemilihan risiko-risiko itu, kita mengharapkan berapa keuntungan yang diinginkan untuk perusahaan asuransi tersebut.                                     


            Skema di atas menjelaskan tantang bagaimana dana rekening tabarru’ dikelola, yaitu sebagai berikut :
·    Rekening dana tabarru’ peserta asuransi berdasarkan akad mudharabah, memperoleh bagi hasil dari hasil investasi. Begitupun bagi perusahaan asuransi tersebut.
·    Rekening dana tabarru’ peserta asuransi dialokasikan sebagai ujrah bagi perusahaan asuransi sebagai fee dalam mengelola dana dan menanggung risiko peserta asuransi berdasarkan akad wakalah bil ujrah.
·       Perusahaan asuransi mereasuransikan dana rekening tabarru’ peserta asuransi
·       Rekening dana tabarru’ dibayarkan sebagai klaim kepada peserta asuransi berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian
·         Ketika peserta asuransi tidak pernah mengklaim atau hanya sedikit mengklaim dana tabarru’ , sehingga dana tabarru’ mengalami surplus underwriting. Maka, dilakukan bagi hasil antara perusahaan dan peserta sesuai perjanjian yang telah disepakati di awal

Profit (laba) pada asuransi syariah untuk asuransi kerugian, yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi dan hasil investasi bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan sebagaimana mekanisme yang ada pada asuransi konvensional. Tetapi dilakukan bagi hasil (mudharabah) antara perusahaan dengan peserta sebagaiman yang telah diperjanjikan atau menjadi akad di awal.
Besarnya bagi hasil sangat tergantung kondisi perusahaan, semakin sehat dan besar profit yang diperoleh oleh perusahaan, semakin besar pula porsi bagi hasil yang dibagikan kepada peserta. Skim bagi hasil biasanya dievaluasi setiap periode tertentu misalnya 2 atau 3 tahun sekali manakala perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan baik itu untung maupun rugi                                                                                                                                                                      
            Dalam system operasional yang berlandaskan syariah, perusahaan asuransi syaiah melakukan kerja sama dengan peserta berdasarkan prinsip mudharabah, yaitu membagi hasil keuntungan operasional kepada seluruh peserta yang tidak mengajukan klaim atau membatalkan polis. Dengan mekanisme pengelolaan dana yang sesuai dengan syariah, dana peserta yang ada diinvestasikan. Hasil investasi dimasukan ke dalam total kupulan dana peserta, kemudian dikurangi dengan beban asuransi (klaim dan premi reasuransi). Surplus dana kumpulan peseta dibagikan sesuai dengan system bagi hasil .
            Mekanisme pendistribusian surplus underwriting ini sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 53 / DSN – MUI / III / 2006 tentang akad tabarru’ pada asuransi dan reauransi syariah yang telah dipaparkan sebelumnya. Dalam hal dana tabarru’, jika terjadi surplus disimpan sebagai cadangan tabarru’ dan sebagian lainnya didistribusikan kepada peserta dan perusahaan sebagai pengelola, pilihan tersebut harus disetujui terlebih dahulu oleh peserta asuransi.
  
C.         PENUTUP
I.          Solusi Pengalokasian Surplus Underwriting Dana Tabarru’
            Dalam pengalokasian surplus underwriting dana tabarru’, dimana surplus underwriting dapat dibagikan dengan pilihan sebagai berikut :
·                                 Seluruhnya ditambahkan ke dalam dana tabarru
·                                 Sebagian ditambahkan ke dalam dana tabarru’ dan sebagian dibagikan kepada peserta
·                               Sebagian ditambahkan ke dalam dana tabarru’, sebagian kepada peserta dan sebagian ditambahkan  kepada perusahaan
               Dengan adanya surplus underwriting ini, otomatis dana cadangan tabarru juga ikut bertambah, cadangan dana tabarru’ ini dialokasikan untuk :
·                                  Menutupi defisit yang kemungkinan terjadi di periode mendatang
·                       Tujuan menjaga-jaga dampak risiko kerugian yang luar biasa yang terjadi pada periode mendatang untuk jenis asuransi yang menunjukan derajat klaim yang tinggi
·         Cadangan dana tabarru’ diperhitungkan dalam penentuan rate insentif surplus dana tabarru’ tahun berikutnya
·         Cadangan dana tabarru’ hanya dipergunakan untuk membayar klaim apabila dana tabarru’ tahun berjalan tidak mencukupi
·         Apabila dana tabarru’ taun berjalan ditambah cadangan tabarru’ yang tersedia tidak mencukupi untuk membayar klaim, maka akan ditutup melalui dan pengelola sebagai dana qardh ( dana pinjaman atau talangan ) yang akan dikembalikan pada saat tutup buku tahun berikutnya apabila surplus operasi menghasilkan angka positif

II.         Komentar Penulis Mengenai Perlakuan Surplus Underwriting
            Surplus underwriting merupakan dana tabarru’ yang dialokasikan sebagai dana cadangan tabarru’ yang hasilnya digunakan untuk kepentingan bersama baik itu perusahaan asuransi, pemegang polis, maupun saldo bagi dana tabarru’ itu sendiri. Dalam Asuransi Syariah perlakuan terhadap surplus underwriting sangatlah jelas dan gamblang, tidak ada unsur gharar, maisir ataupun riba seperti yang dilakukan oleh perusahaan asuransi konvensional.           
            Dana tabarru’ merupakan dana kolektif diantara peserta yang hanya boleh digunakan untuk kepentingan peserta saja seperti klaim, cadangan tabarru’ dan reasuransi syariah. Dana tabarru’ ini dapat diinvestasikan oleh perusahaan pihak pengelola, dan jika terdapat surplus dari investasi dana tabarru’ itu akan dimasukan ke dalam rekening dana tabarru’ peserta dan pihak pengelola mendapat upah/bagi hasil sesuai dengan akad yang disepakati (wakalah bil ujrah, mudharabah atau mudharabah musyarakah). Selain itu juga terdapat surplus underwriting dari dana tabarru’ penetapan besarnya pembagian tergantung kepada peserta kolektif, regulator atau kebijakan manajemen.
            Dana yang diterima sebagai profit bagi perusahaan dari pendapatan pengelolaan. yaitu dari :
·         Penerimaan ujrah
·         Penerimaan alokasi surplus dana tabarru’
·         Hasil investasi dana pengelolaan
·         Bagi hasil investasi pengelolaan dana tabarru’
            Disini dapat dilihat bahwa pendapatan yang diterima perusahaan sangatlah detail. Selanjutnya dari penerimaan yang diterima itu dikurangi beban-beban yang harus dibayar, yaitu :
·         Beban pemasaran
·         Beban administrasi
·         Komisi
·         Ujrah reasuransi
·         Beban lain – lain
Sedangkan masalah biaya operasional merupakan beban yang harus dikeluarkan dan sudah dihitung di awal tahun. Besarnya profit yang paling diharapkan terutama dari berbagai risiko dapat dikelola dengan baik dan perlu didukung seorang underwriter yang prudent yang memiliki pengetahuan luas tentang isiko dan kerugian yang pernah terjadi sebelumnya dan dapat memprediksi risiko yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang, serta keahlian dalam pengelolaan investasi Insya Allah akan menghasilkan profit yang optimal.




DAFTAR PUSTAKA
Iqbal, Muhaimin. Asuransi Umum Syariah Dalam Praktik. Jakarta : Gema Insani Press, 2005.
Hasan, M. Ali. Masail Fiqhiyah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Sula, Muhammad Syakir. Asuransi Syariah ( Life and General ) Konsep dan Sistem Operasional. Jakarta : Gema Insani Press, 2004.
Darmawi, Herman. Manajemen Asuransi. Jakarta : Bumi Aksara, 2000.
Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta
Amrin, Abdullah. Strategi Pemasaran Asuransi Syariah. Jakarta :  PT. Grafindo, 2007.



[1] Muhaimin Iqbal, Asuransi Umum Syariah Dalam Praktik, Gema Insani Press, Jakarta, 2005, hlm. 2
[2] Herman Darmawi, Manajemen Asuransi, Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 31-32
[3] Fatwa DSN-MUI No. 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
[4] Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, hlm. 276
[5] Fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah

[6] Wanprestasi adalah tidak melakukan apa yang tertulis dalam kontrak (melanggar kontrak)
[7]Abdullah Amrin, Strategi Pemasaran Asuransi Syariah, PT. Grafindo, Jakarta, 2007, hlm. 103

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar